Friday, April 15, 2016

Hancurnya Baltigo, Pasukan Revolusi Kalah!?

Lagi dan lagi, halaman terakhir Chapter One Piece minggu ini menyisakan sesuatu yang membuat hampir semua fans One Piece di seluruh dunia bertanya-tanya. Bagaimana tidak, sebuah surat kabar memberitakan mengenai hancurnya markas pusat salah satu kelompok yang dianggap paling berbahaya oleh Pemerintah Dunia, Pasukan Revolusi.

Bagaimana bisa markas tempat Dragon dan Sabo hancur begitu saja!?

One Piece Chapter 823 - Hancurnya Baltigo, Pasukan Revolusi Kalah!?
Keberadaan Burges di pulau itu membuat kebanyakan fans langsung berpikir bahwa tempat itu dihancurkan oleh Kurohige. Apalagi Burges secara tidak langsung meminta Laffitte untuk menghubungi kapten mereka, Kurohige dan menyuruhnya untuk menyerang tempat itu karena di sana ada banyak senjata.[4]

Tapi apa benar Pasukan Revolusi kalah semudah itu dari Kurohige? Kalau memang iya, apa gunanya kejadian ini bagi cerita One Piece ke depannya? Arc Penculikan Kakak Jilid II? Semoga saja tidak.

Satu hal yang harus kita sepakati, hancurnya markas bukan berarti kekalahan bagi pemiliknya. Contoh nyatanya: Marineford hancur, bukan berarti Angkatan Laut kalah dalam pertempuran melawan Shirohige.

Dan jangan lupa ini cuma berita berita di koran, berita yang jelas-jelas mengabarkan kalau Jack mati saja bisa salah, apalagi berita tentang hancurnya markas Pasukan Revolusi, cuma markasnya. Jadi terlalu dini (sangat dini dan terburu-buru) apabila ada yang berpendapat kalau Dragon dan Sabo sudah mati.

Terdapat beberapa kemungkinan mengenai penyebab hancurnya markas kelompok yang dipimpin oleh ayah Luffy ini.

Pertama, Pasukan Revolusi memang kalah dan Baltigo dihancurkan oleh Kurohige. Tapi hal ini agak janggal. Terlalu cupu jika bajak laut sekelas Yonkou apalagi Kurohige (yang juga memiliki kekuatan Buah Gura Gura) hanya menghancurkan bangunannya.[5] Dengan kekuatannya, dia bisa saja menghancurkan pulaunya sekalian. Weevil yang cuma Shichibukai saja menghancurkan markas bajak laut sekalian sama kotanya,[2] masa Kurohige cuma nghancurin rumah.

Dari gambar di koran yang dibaca oleh Pedro, skala kehancurannya tidak begitu luas. Kemungkinan lain yang lebih tinggi pun muncul:

Pasukan Revolusi menghancurkan markasnya sendiri untuk meninggalkan jejak.

Setelah sadar bahwa Burges menyusup di markas mereka, Dragon dan anak buahnya sadar kalau tempat mereka sudah tidak aman lagi. Jadi setelah mereka mengalahkan anak buah Kurohige itu, prioritas berikutnya yaitu menghancurkan tempat itu dan pergi ke markas lainnya, untuk meninggalkan jejak.

Kemungkinan lain yang tak kalah masuk akal, Baltigo diserang saat orang-orang hebatnya tidak ada di sana. Dragon meminta Koala untuk mengumpulkan para pemimpin mereka,[3] jadi perempuan itu pun pun pergi meninggalkan markas. Nah kalau dia pergi, maka otomatis pacarnya Sabo juga ikut. Maka berkuranglah salah satu orang kuat Pasukan Revolusi yang menjaga tempat itu.

Tapi kemungkinan tadi hanya bisa terjadi dengan asumsi bahwa ada pemimpin Pasukan Revolusi yang harus didatangi secara langsung. Kalau tidak ya tinggal memakai denden mushi saja.

Pertanyaan yang tak kalah penting dari berita di koran tersebut adalah, bagaimana bisa pemerintah, atau paling tidak wartawan yang menulis berita itu tahu lokasi Baltigo? Mustahil kan Kurohige bekerja sama dengan Pemerintah.

Kemungkinan besar berita ini ditulis oleh Absalom, yang saat ini menjadi penulis koran dengan berita-beritanya yang terkenal dengan kerap mencengangkan dunia lewat nama samaran Absa.[6] Absalom bisa saja menggunakan kekuatannya untuk menyusup ke kapal Laffite atau paling tidak membuntuti mereka, dan akhirnya sampai di Baltigo. Kalau benar begitu, maka kalian tahu artinya apa?

Ya, Baltigo sudah hancur saat mereka sampai di sana. Kenapa? Karena kalau sempat terjadi pertempuran, maka tentu saja Absalom akan menulis berita dengan judul Perang antara Kurohige melawan Pasukan Revolusi, Pasukan Revolusi kalah oleh Kurohige, atau semacamnya. Tapi nyatanya tidak, judulnya Markas Pasukan Revolusi yang Selama ini Tersembunyi akhirnya ditemukan, Baltigo telah hancur, already in ruins. Kecuali ada cara lain bagi wartawan pemerintah untuk menemukan lokasi itu setelah perang terjadi. Tapi masa iya?

Burges tiba di Baltigo sekitar satu minggu yang lalu, mungkin kurang (dengan asumsi perjalanan dari Dressrosa ke Baltigo membutuhkan waktu beberapa hari). Jika Kurohige butuh beberapa hari lagi untuk sampai di sana, dan pertempuran terjadi paling tidak sehari, maka hanya ada rentang waktu kurang dari seminggu bagi seseorang untuk menemukan tempat itu.

Orang pemerintah macam apa yang bisa menemukan lokasi yang selama bertahun-tahun tak bisa ditemukan dalam waktu kurang dari seminggu?
CP0, ya, jangan lupa dengan agen pemerintah tempat Lucci dkk saat ini bernaung itu.

Beberapa orang juga mengaitkan masalah hancurnya Baltigo ini dengan CP0, apalagi setelah Lucci sempat menunjukkan diri beberapa waktu yang lalu, dan sempat juga menyebut-nyebut soal Pasukan Revolusi. Bahkan ada yang berpendapat bahwa foto orang bertopi yang ada di sebelah foto Dragon pada koran yang dibaca Pedro itu Lucci, tapi sepertinya hal ini mustahil. Tiga foto yang ada di pojok koran itu kemungkinan merupakan foto-foto Pasukan Revolusi, mulai dari Dragon, Sabo, dan Kuma.

Intinya markas itu cuma gedung, kehancurannya tak lantas berarti kehancuran bagi kelompok yang memilikinya. Satu hal yang lumayan menjadi hype pada One Piece Chapter 803 lalu adalah, ketika Dragon berniat untuk mengumpulkan para pemimpin Pasukan Revolusi. Rasanya terlalu kejam jika hype ini dibuat mati begitu saja oleh hancurnya Pasukan Revolusi. Terlalu kejam bagi pasukan yang menentang Pemerintah Dunia itu, dan juga terlalu kejam bagi para pembaca.

Tapi tenang saja, yang membaca koran itu adalah Pedro, yang berada di dekat Luffy. Artinya apa? Artinya pada chapter minggu depan hal ini masih akan dibahas. Koran macam apa yang cuma berisi judul? Pasti ada artikel penjelasannya juga, dan Luffy pasti akan sangat peduli dengan berita ini. Kalau berita lain, mungkin dia akan mengabaikannya dan lebih memilih untuk tidur saat orang lain membacakan, tapi ini soal Sabo. Satu-satunya saudara yang masih tersisa.

Jika memang Pasukan Revolusi tertangkap oleh CP0 (meski sepertinya tidak) dan Sabo dalam bahaya, hal ini tentunya akan menjadi jadi sebuah dilema. Luffy dihadapkan pada dua pilihan yang sulit, antara menyelamatkan kakaknya yang akan dieksekusi, atau kokinya yang akan menikah.

Kalau yang hancur cuma bangunannya, lalu berita itu menjelaskan kalau tak ada Pasukan Revolusi yang berhasil ditemukan, atau semacamnya, Luffy pasti hanya akan tersenyum lebar dan percaya kalau Sabo baik-baik saja. Perjalanan menuju Pesta Teh pun lanjut.

Referensi
[1] One Piece Chapter 801 Halaman 1
[2] One Piece Chapter 802 Halaman 5
[3] One Piece Chapter 803 Halaman 6
[4] One Piece Chapter 803 Halaman 8
[5] One Piece Chapter 823 Halaman 16
[6] SBS One Piece Volume 71